Senja kian merayap, mendekap erat hati yang jahanam
dan ingkar. Berderak suara itu terdengar, sepasang
sendal jepit lusuh terseret di tengah riuhnya debu jalanan. Tertunduk lesu dia
memandangi kerasnya jalanan, berfikir apa arti perjalanan ini. Tampak jauh di
ujung jalan kubah surau benderang, suara adzan memanggil, tapi apa arti
perjalanan ini bila jiwa telah kosong, penuh dengan lumpur, terkotori oleh
duniawi, begitu tak pantas untuk menghadap sang Khalik yang Maha Mulia. Tapi
bagaimanapun hatinya begitu kosong, butuh secercah lenteraNya, butuh ramhadNya
sebagai penyejuk hatinya yang kerontang. Melangkahlah dia dengan berat, tak
biasa mungkin.
Menengok dia kebelakang, tampak dirinya yang lalu.
Dia yang selalu bersalah sangka tentang kebahagiaan, tentang ketenangan jiwa,
yang semua berkiblat dengan uang dan duniawi. Sungguh ini perjalanan menuju
surau yang teramat panjang, tapi begitu bermakna. Di sampingnya tampak seorang
bapak pedangang renta yang terpogoh-pogoh mendahuluinya menuju surau, dalam
langkah yang gontai dia tetap tak lelah, begitu malu hatinya. Disisi lain
tampak begitu lelap tidur seorang pemuda berjubah, beralaskan kerasnya aspal,
didampingi seorang anak yang tengah asyik menyantap nasi lauk teri, begitu
tenang dan begitu nikmat. Ya Rabb, terngiang tentang dirinya diantara makanan
yang lezat, kasur yang empuk, tapi masih tak menemukan nikmatnya hidup dan damainya hati.
Sungguh terjal dia rasa jalan itu, meski hanya
beberapa depa saja dari hadapannya. Surau yang terasa nun jauh kini mulai
terlihat. Ingin rasanya dia berlari, mendekap Tuhannya, menangis sejadi-jadinya,
limpahkan keluh kesah itu, dan berkata “Ampuni aku Tuhan, ampuni aku yang tak
tahu malu ini, aku yang tak ingat padaMu bila bahagia, baru kembali ketika
derita menerpa”. Tapi lidahnya kelu, kakinya kaku, bergeming dia masih di sana,
hanya bisa melihat dikejauhan anak-anak berlomba
menyebutNya, menyenandungkan namaNya, teringat
kembali betapa hinanya dia, betapa tak pantas bertemu dengan penciptanya, masih
membatu juga hatinya terlilit perkara dunia.
Pragmatismenya telah mencapai titik nadir, beku
hatinya oleh dunia, menjadi lebih iblis dari syetan, dan agama akhirnya menjadi
Pulau Elba yang asing. Hidup dirasa tak lebih dari sekedar lomba lari, terjepit
dalam sebuah paham yang sempit, menggebu-gebu ambisi mengejar dunia, halalkan
segala tipu daya, dan melupakan pemilik bumi dan langit Yang Maha Melihat.
Begitu sombong dia melangkah, congkak hidupnya, pincang hatinya tanpa hal yang
begitu dekat tapi begitu berat dicapainya, Iman.
Begitu miris hidupnya, tercetak menjadi sebuah
robot, yang patuh dan tunduk dalam kungkungan sistem yang rusak dan celaka. Tak
pernah terbesit dibenaknya tentang Tuhannya,tentang kitabNya yang hanya tak
lebih sekedar alif, ba, tsa, dan seterusnya yang tercetak dalam sistem kolonial
yang apik. Cukup itu saja, tanpa kesadaran akan iman, atau mungkin memang tidak
mau sadar. Padahal begitu indah tertuang dalam beragam buku, bahwa insan
harusnya hidup hanya untuk TuhanNya, dan kehilangan “jati diri
kemanuasiaannya”, terombang-ambing hanya demi nominal yang secuil.
Mungkin lapar hatinya, apa mau dikata nasi telah
menjadi bubur, hati telah bercampur lumpur, tapi dia begitu Rindu akan
Tuhannya, satu-satunya dzat yang dapat menjadi tumpuannya. Gamang memang, malu
berkaca melihat dirinya, melihat hal-hal yang syubhat, atau haram yang dijadikan halal. Mencoba dia lepaskan rantai duniawi, hanya
untuk sedikit mencapai kehadiratNya, sedikitpun tak apa demi pelipur rindunya.
Sungguh Allah maha Pemurah, Maha Pemaaf, yang masih mau melirik umatnya yang
meronta dalam lumpur mengingatNya, meski hanya ada setitik ketakwaan yang hanya
seperti debu. Ya Rabb tak terperi nikmat dan ampunanMu.
Insan ketika mau bersyukur akan nikmat Allah sungguh
tak akan mampu, seperti itu yang dia rasakan, begitu luas nikmatNya, termasuk
nikmat dapat kembali padaNya. Dikembalikan hakikatnya sebagia manusia, tapi
manusia yang buta tentunya, yang harus kembali mulai belajar membaca dari alif.
Dirasakan betapa nikmat yang sesungguhnya adalah ketika mulai belajar lagi
tentangNya, belajar kembali kepadanya yang hakiki, belajar mencari dua kata
ajaib, iman dan takwa.
Begitu ajaibya kuasa Tuhan, begitu besar
mukjizatNya. Terjangan masalah yang terus mendera, ketenangan hidup yang
dicarinya dengan salah, himpitan dunia, keraguan dalam dirinya tentang hal yang
sangat tabu, tentang apakah sebenarnya Tuhan itu ada, lenyap hanya dengan sebuah
sajadah dan tasbih sederhana, begitu jauh dengan bayangannya tentang ketenangan
yang harus megah dan mewah. Bila hati insan bulat hanya padaNya, tak lupa untuk menengadahkan tangan,
sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun dan Mengetahui, lenyap cerita derita.
Sebuah pesan Nabinya yang telah lama dia lupakan, seruanNya dalam At- Taubah, “La Tahzan, Innallaha ma’ana”